Ia tahu waktunya tak banyak. Dalam beberapa jam, perempuan itu akan kembali hilang dari
hidupnya. Meski seluruh sel tubuhnya tergetarkan oleh perasaan gentar, Wayan sadar ia tak
punya kesempatan lain selain saat ini.
Keenan masih membereskan barang-barangnya di kamar, dan Lena tengah menunggu sendirian
di serambi rumah utama. Wayan lalu berjalan menghampirinya. Lena, yang mendengar suara
langkah kaki, langsung menoleh ke belakang. Dan ia lebih kaget lagi ketika mendapatkan Wayan
sedang berjalan mendekatinya, kemudian menggeser kursi, dan duduk di hadapannya.
“Kamu tidak perlu bicara apa-apa, Lena,” kata Wayan segera, “kamu hanya perlu mendengar.
Dan apa yang ingin kusampaikan tidak banyak.” Wayan memberanikan diri menatap ke dalam
mata Lena, terlepas dari darahnya yang seperti berhenti mengalir hanya dengan duduk sedekat
ini dengan perempuan yang begitu dicintainya.
“Dua puluh tahun aku habiskan cuma untuk melupakan kamu. Tapi tidak sedetik pun aku
menyesal. Keenan, adalah cinta kedua terindah yang pernah kualami setelah kamu. Aku
menyayangi dia seperti anakku sendiri. Aku berterima kasih untuk kesempatan yang kamu dan
Adri berikan, sehingga dia bisa menjadi bagian hidupku seperti sekarang. Lewat kehadiran
Keenan, aku belajar memaafkan diriku, kamu, Adri, dan semua yang dulu kita lalui.” Seiring
dengan aliran kalimat yang telah dipendamnya puluhan tahun, Wayan merasa tubuhnya
menghangat, hatinya melega.
“Jangan pernah beri tahu Keenan kalau aku sangat mencintai ibunya. Biar saja dia memandang
aku tak lebih dari sekadar sahabat lama orang tuanya,” Wayan pun beranjak berdiri, “semoga
Adri cepat sembuh.”
“Wayan…” sergah Lena, “aku minta maaf.”
“Kamu nggak perlu minta apa-apa, Lena. Semuanya aku lepaskan untuk kamu.” Wayan
tersenyum tipis.
Sesuatu seolah membuncah ingin keluar dari dadanya, Lena nyaris tak bisa berdiri dan berucap,
tapi ia pun tahu kesempatan ini mungkin tak akan ada lagi. Ia harus bicara. “Aku harus
meninggalkan kamu waktu itu. Aku tidak mungkin mengorbankan Keenan dalam perutku. Dan
keputusanku bukan karena Adri… bukan karena hatiku yang memilih dia… tapi karena
kandunganku…”
“Lena… sudah. Aku tahu. Aku mengerti. Dan aku bahagia kamu memilih untuk mempertahankan
Keenan.”
“Antara aku dan Adri waktu itu—”
“Apa pun yang terjadi antara kalian berdua, tidak lagi penting buatku sekarang. Kalian sudah
membuktikannya dengan bertahan bersama sekian lama. Aku senang dia mampu menyayangi
dan mengurusmu dengan baik,” Wayan mengatur napasnya yang menyesak, “hati kamu mungki
memilihku, sebagaimana hatiku selalu memilihmu. Tapi hati juga bisa bertumbuh dan bertahan
dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup.”
Lena merasakan kedua matanya panas, tapi tak ada air mata yang keluar.
“Semoga Adri cepat sembuh. Kami semua mendoakan dari sini,” kata Pak Wayan. Ia mengelus
sekilas punggung tangan Lena di atas meja, lalu berbalik pergi.
Lena kembali duduk sendirian di serambi. Tetap tak ada air mata yang keluar, meski hatinya
kembali menangiskan tangisan panjang yang telah menghantuinya puluhan tahun. Tangisan
yang selamanya harus terkurung dalam kesunyian. Tangisan yang harus kembali dikuburnya
dalam-dalam.
Rabu, 01 April 2009
Langganan:
Komentar (Atom)